You are currently viewing ROME Part 2, Ketemu Copet Cantik + Kena tilang + Closing Party!!

ROME Part 2, Ketemu Copet Cantik + Kena tilang + Closing Party!!

ROME Part 2, Ketemu Copet Cantik + Kena tilang + Closing Party!!

Bersambung dari Part 1..

Pendidikan Tidak Begitu Penting

Selesai istirahat kita masuk lagi untuk tema kedua, yaitu “Gender Equality and Women’s Empowerment”. Seperti biasa, setiap tema dimulai dengan pembacaan Position Paper dari masing-masing delegasi yang menjelaskan bagaimana sikap mereka terhadap isu dalam tema tersebut. Kebanyakan delegasi secara garis besar menegaskan posisinya bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam kontribusinya untuk dunia.

Singkat cerita, sampailah ke section Unmoderated Caucus. Seorang delegasi yang berasal dari salah satu negara berkembang menceritakan keadaan sebenarnya. Menurut dia perempuan di pedalaman negara tersebut mengalami kendala untuk menerima pendidikan yang cukup.

Sebagian besar keluarga di pedalaman negara tersebut memiliki pola pikir yang keras bahwa tugas utama perempuan bukanlah menuntut ilmu di jenjang pendidikan. Padahal pemerintah setempat sudah memberikan fasilitas dan penyuluhan terkait dengan pendidikan. Akan tetapi, begitu pemeritah melakukan program intensif, kepala keluarga bersikeras bahwa anaknya adalah milik keluarga dan bukan milik pemerintah. Karena anaknya adalah milik keluarga, mereka bersikeras bahwa tempat semestinya adalah bekerja di rumah membantu keluarga.

Banyak delegasi negara lain menghampirinya saat bercerita karena ini merupakan hal yang menarik dan merupakan isu yang harus dipecahkan bersama. Pas udah tau duduk persoalannya, arah perdebatan di sesi Moderated Caucus bukan ngedukung atau ga ngedukung lagi tentang pentingnya pendidikan, tapi tentang implementasi yang harus dilakukan PBB. Terdengar classic, tapi yang bikin susah karena target utamanya adalah penduduk pedalaman yang karakternya seperti yang disampaikan tadi.

Beberapa delegasi mengajukan bahwa pemeritah negara setempat wajib melakukan tindakan tegas karena memiliki wewenang. Di sisi lain, ada beberapa delegasi yang mengajukan dengan cara persuasif, yaitu dengan melibatkan tokoh masyarakat untuk membantu pemerintah dalam mensosialisasikan pendidikan.

Bahas berbagai pandangan dari semua delegasi bikin waktu ga kerasa udah jam 5 sore aja sehingga pembahasan tema tersebut harus ditunda sampai besok. Terus kita ngerokok dan nyantai sebentar di luar sambil bersiap untuk ke Condotti karena ada barang yang mau dipesan.

Dia yang Nyetir Gw yang Kena Tilang

Dari Luiss Guido Carli University, kita ke halte untuk naik bus 360 menuju Termini dulu. Terus gw sadar tiket day-pass gw udah abis. Cari-cari di deket sana ga ada yang jual. Toko majalah, vending machine, atau apapun ga ada di sekitar sini, sepi bro. Pas lagi usaha nyari, eh.. busnya udah keburu dateng dong. Gw naik aja dulu dan sementara pake tiket yang ga berlaku lagi dengan harapan kalo ditanyain gw bisa jelasin. Seinget gw di sana ga terima koin atau cash, jadi harus beli tiket duluan sebelum naik. Tapi apesnya, gw udah keburu naik busnya bro.

Begitu sampai di Termini, tiba-tiba ada beberapa petugas terminal yang naik untuk ngerazia kita beli tiket atau ga. Kayaknya si supir laporin kita ke terminal dengan cara pencet tombol di cockpitnya atau apalah. Soalnya dari awal kita naik, dia ngintip-ngintip ngeliatin kita lewat spion.

Alhasil, gw dikenain denda. Disangka gw sengaja ga mau bayar transport. Udah gw jelasin permasalahannya tapi dia tetap kenain denda. Tanpa peduli dia cuma bilang,

“No, no, 50 euro”, sambil nunjukin 5 jari yang kayak jempol semua.

50 Euro bro!

Ini petugas resmi si tapi yang gw ga terima adalah gw harus bayar denda 50 euro atau pada waktu itu senilai Rp650.000,- dari apa yang sebenernya ga mau gw lakuin. Ditambah lagi penjelasan gw kehambat karena dia juga ga berusaha ngerti. Kampretos.

Another lesson learned. Di Roma, harus selalu siap tiket untuk naik bus atau kereta terutama kalo lo berangkat ga dari city center karena ga banyak yang jual tiket tersebut.

Ga Boleh Meleng

Kemudian kita jalan dari parkiran bus tadi ke stasiun metro Termini dengan jarak yang cukup untuk membuat beberapa orang ngerumunin kita nawarin dagangan. Ada pedagang keliling yang nawarin scarf, lumayan bagus padahal harganya cuma 5 euro dan langsunglah gw beli beberapa.

Selesai beli scarf, kita sadar ada 1 tas temen cewe kita yang kebuka. Wah, copet nih. Temen gw udah mulai panik karena di dalamnya ada uang, paspor, macem-macemlah. Langsung dia cek, untungnya belom sempet keambil baru kebuka doang. Luar biasa, predikat Roma sebagai copet terparah kedua di dunia (waktu itu) udah mulai keliatan, padahal kita beli scarf tadi cuma sebentar paling cuma semenit dua menit dan keadaan lagi ga sesak. Tapi ya udah tetap Alhamdulillah karena ga timbul masalah dari situ, paling cuma si denda itu aja 50 euro, bersyukur cuma melayang 50 euro daripada yang lain. Eh tapi tunggu dulu, masih ada lagi..

Sampai di stasiun Metro Termini, ada anak-anak kecil nempelin-nempelin kita dan akhirnya kita tau mereka mau nyopet juga..! Mereka ga kerja sendirian, bosnya ibu-ibu lagi duduk ngasih kode dan ngawasin dari jauh. Kereta kita dateng dan mereka ikutan masuk, terus anak-anak kecil itu bilang,

“Attenzione! Attenzione! There’s a lot of thieves, put your wallet here”, satu anak kecil cewe teriak sambil nunjukin saku belakang celana. Tapi kita semua ga ada yang nurutin karena itu pasti akal-akalan mereka aja supaya kita naro dompet di tempat yang mereka mau. Jadi, kita masukin barang semua ke dalam tas dan tasnya kita dekap erat-erat. Walaupun begitu, mereka tetap agresif pura-pura berdesakan sama kita dan tangannya berani geratak-geratak tas kita. Gw halangi mereka pake badan dan pake tangan gw sedikit untuk menghalau badan dan tangan mereka supaya minggir. Terus ada temen gw cowo yang teriakin mereka dengan bahasa sehari-hari di Jakarta,

“Heh! Heh! Heh!”, ga tau tuh anak kecil ngerti apa ga. LOL.

Nah, kan kita mau ke Condotti jadi kita harus turun di stasiun Metro Spagna. Di antara stasiun Termini dan Spagna, ada 2 stasiun yang harus dilewati, yaitu Repubblica dan Barberini. Untuk lepas dari kejaran mereka, kita pura-pura turun di platform stasiun tersebut. Eh, beneran dong, copet-copet cilik itu ikutan turun juga. Begitu kereta metro udah mau jalan kita langsung masuk lagi dengan cepat ke dalam. Alhasil mereka ga sempet masuk lagi, terjebak di platform stasiun, dan lepaslah kita dari tempelan mereka. Kita lihat mereka melalui kaca jendela, mereka sumpah serapah ke arah kita karena ga dapet apa-apa.

Mereka anak-anak masih di bawah umur. Kalau kita ambil tindakan aneh di negara orang bisa jadi masalah. Copet cilik yang paling besar mungkin maksimal 13-15 tahun waktu itu, cantik bro! Dengan perawakan kayak gitu mending dia jadi model. Sayang sekali ga kefoto karena kejadiannya cepet banget.

Kota Indah Banyak Hiburan Jalanan

Sesampainya di stasiun Metro Spagna kita lanjutkan jalan kaki menuju Condotti. Untuk mencapai Condotti kita harus lewatin suatu terowongan dulu dari stasiun metro di bawah tanah menuju piazza di luar. Di sepanjang terowongan tersebut ada berbagai macam orang yang buka lapak. Ada yang meminta uang dan adapula beberapa orang jualan tas fake. Yang jualan tas fake, semua tasnya dialasin 1 kain yang lebar. Katanya supaya tas fake itu semua bisa langsung dibungkus, iket, dan langsung kabur kalo tiba-tiba ada razia.

Masih di terowongan itu, ada lagi pemusik main gitar listrik jago, pake amplifier, dan suaranya juga asik bawain lagu What’s Up-nya 4 Non Blondes. Kita deketin sebentar ngasih koin sambil jalan dan sambil dengerin karena suaranya masih kedengeran sampai ujung terowongan, asik banget. Sepanjang perjalanan kita di Roma lagu itu nyangkut di kepala kita.

Setelah keluar dari terowongan kita ngelewatin gang kecil dulu sedikit dan sampailah kita di Via del Condotti yang letaknya dekat Piazza di Spagna. Di sini banyak turis hits dari berbagai negara. Tapi, dari semua macam gaya ada satu kesamaan yang pasti, yaitu semua bawa handbag di depan untuk menjaga barang dari copet. Ini tempat asik buat belanja. Sepanjang jalan isinya toko branded, kalau mau yang lebih terjangkau bisa jalan terus ke arah ujung jalan ini.

Description: IMG_4258.JPG
Via dei Condotti

Kita jalan-jalan terus sampai Via del Corso dan nemuin komunitas street dancer.

Description: IMG_4260.JPG

Kira-kira 2 jam berlalu setelah kita jalan-jalan cari barang, kita ketemuan lagi di meeting point di Piazza di Spagna. Sambil jalan pulang kita jajan gelato di Cioccogelateria Venchi, kira-kira keluarin 3 euro dan kita dapet gelato rasa yang ciamik.

Kita lanjutin jalan kaki sambil ngobrol dan ketawa-tawa jadi ga terlalu kerasa capek. Suhu ga terlalu dingin, paling cuma 14 derajat tapi anginnya lumayan semiriwing. Ga lama kemudian nemu restoran suasananya romantis, dipinggir gang lampu remang-remang, terus kita duduk pesen makan dan wine. Enak.. banget..

Selesai makan-makan kita lanjut pulang kemudian istirahat untuk persiapan konferensi besok.

Penentuan Draft Resolusi PBB

Di Minggu pagi yang cerah, 10 Maret 2013, gw kembali berpasangan dengan temen gw bersiap untuk konferensi ngelanjutin hari kemarin, yaitu tentang hak pendidikan untuk semua kalangan.

Singkat cerita, konferensi sudah masuk ke dalam voting draft resolusi. Draft resolusi dari koalisi A dan koaliasi B ditampilkan di layar. Pertama dibacakan dulu draft dari koalisi A lengkap dengan daftar negara sponsornya.

Draft resolusi dari koalisi A menawarkan bahwa dalam mengimplementasikan pendidikan sampai ke pelosok daerah harus dengan cara yang lebih agresif. Secara garis besar apabila ada penduduk yang tidak menjalankan program wajib belajar padahal terbukti mampu menyekolahkan, maka patut diberikan hukuman.

Bertolak belakang dengan koalisi A, koalisi B menawarkan cara implementasi yang lebih persuasif. Dalam draftnya ditegaskan bahwa pemerintah harus secara langsung turun ke lapangan bertemu sendiri dengan penduduk di pedalaman. Tidak hanya sekedar berhadapan langsung, United Nations (UN) beserta pemerintah juga harus memberikan penyuluhan bahwa pendidikan dapat menentukan kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

Gw dan temen gw sebagai delegasi Brazil menjadi sponsor untuk draft resolusi yang ditawarkan oleh koalisi B. Kita setuju cara persuasif karena merupakan win-win solution. Jangan sampai hadirnya pendidikan justru membuat kehidupan mereka lebih sengsara dan (hopefully) mereka akan menerima program yang ditawarkan pemerintah.

Setelah menbaca draft, voting pun dimulai. Setelah semua suara terkumpul, akhirnya tercatat sudah bahwa draft resolusi yang mendapatkan voting terbanyak adalah draft yang diajukan oleh koalisi B. Termasuk yang delegasi yang asli dari negara berkembang tersebut pun vote untuk menggunakan cara yang lebih persuasif.

CLOSING PARTY..!!

Dua tema sudah dibahas dan udah ketemu draft resolusinya. Waktu juga sudah menunjukan jam 6 sore. Kita langsung berbenah diri dan cewe-cewe makeup, terus kita beranjak ke bus yang udah dipesen panitia. Setelah tunggu sana-sini dan absen dari panitia, kita diberangkatkan ke suatu tempat. Sampailah kita di sana jam 8 malam untuk acara berikutnya yang sudah ditunggu-tunggu.

Tampak sebuah resto and bar dengan dekorasi yang udah disiapin panitia yang bernama Ristorante La Cucina Con Vista. Letak resto and bar ini di Frascati, sebuah kota perbukitan pinggir kota Roma. Restoran ini punya private pool sendiri dan punya view kota Roma yang asik.

Semua delegasi dikasih voucher untuk tuker dengan free drinks, pilihannya ada Vodka, Whisky, Sex on the Beach, dan lain-lain, banyak pokoknya. Kemudian panitia langsung arahin kita ke depan DJ untuk.. closing party!!

Pas semua delegasi udah masuk semua dan udah siap, Signor DJ langsung main dan kita semua heboh dalam euforia tersebut. Gimana enggak, 4 hari kita disuguhin konferensi PBB terus yang serius, lumayan mumet juga bro. Ditambah lagi sekarang kita party bareng sama seluruh mahasiswa dari seluruh dunia, makin seneng.

Closing Party

Semua kerja keras tim kita terbayar di trip ini. Semua bisa dipraktekin dengan cara berangkat ke eropa gratis di post gw sebelumnya. Sekilas aja keliatan susah. Emang susah si, tapi semua bisa diwujudkan dan nanti semua capek kita akan terbayar. Suatu keberhasilan yang dicapai dengan susah payah rasanya nikmat banget bro!

Closing Party

Tapi ga enaknya tempat ini adalah ga bisa ngerokok di dalam. Memang kebanyakan lounge di sini ga bisa ngerokok di dalam. Kita harus keluar dulu untuk ngerokok, ganggu acara banget ya, haha. Tapi gapapa, ini terobati karena udara yang sejuk dan view yang keren.

Tempat Ngerokok
Pemandangan Kota Roma (pake Iphone 5, maap ga terlalu jelas)

Pas banget gw juga lagi bawa samsoe, sengaja buat bahan obrolan lagi dengan yang lain. Eh bener pas gw bakar bule cewe cowo ngeliatin, disangka gw isep ijo-ijo kali. Ok daripada mupeng doang gw tawarin aja,

“Come, you should try”

“Sure..” terus diisep lah itu samsoe sama bule cewe, sebut saja Mawar. Terus dia heboh nanya,

“What is this? It’s really good. Is it marijuana?” terus diputer itu samsoe ke temen-temennya, jadi beneran kayak ngisep ijo..

“Haha, no it’s not. It’s just an unfiltered cigarette, but this is one of the best cigarettes in Indonesia”, sambil mereka puterin itu samsoe ke temen-temennya, gw ngeluarin lagi sebatang samsoe yang baru. Gw sih foya-foya aja bakarnya, haha..

Belom selesai, cewe bule yang tadi balik lagi ke gw terus minta lagi,

“Can I have more?”

“Sure”, sambil kegirangan dia ambil samsoenya dan dia pamer ke temen-temennya. Emang the best lah rokok Indonesia.

Selesai ngerokok kita masuk lagi ke dalam buat lanjut minum dan seneng-seneng sampai larut.

Signor Mario
Signor Mario Gangnam Style

Awalnya ga kenal, sekarang kebanyakan yang lain pulang bawa bingkisan.. Sayang sekali pergerakan gw sangat sulit karena bawa bekal dari Jakarta.. hahaha.

Closing Party

Ambil Sertifikat

Di hari Senin, 11 Maret 2013, merupakan hari terakhir dari rangkaian acara RomeMUN. Hari terakhir ini untuk ambil sertifikat keikutsertaan dan paling telat untuk ambil sertifikat tersebut adalah jam 12 siang di Eataly. Kali ini kita berangkat ga terlalu pagi, sekitar jam 9 karena hari terakhir ini lebih santai dan kepala juga masih berat..

Perjalanan kita mulai dengan berjalan kaki sampai bus top untuk naik bus nomor menuju Termini dulu yang kemudian dilanjutkan naik metro sampai ke stasiun Piramide. Kalau udah sampai di staiun ini berarti udah deket ke Eataly, tinggal jalan kaki aja sedikit nyeberangin rel-rel kereta api lewat underground tunnel.

Sesampainya di Eataly kita langsung naik ke lantai paling atas kalo ga salah lantai 4. Kita bergegas menuju comittee masing-masing buat ambil sertifikatnya. Sertifikat inilah yang sering gw attach di CV gw saat apply interview, haha.

Pas ambil sertifikat, salah satu dari kita yang ternyata ada salah penulisan nama di sertifikatnya. Terus dia minta tolong untuk diganti sertifikatnya. Permintaan itu disetujui yang nanti sertifikat dengan nama yang benar bakal dikirim pas kita udah di Jakarta. Panitia RomeMUN responsive dan ngebantu kita samai akhir acara.

Setelah beres urusan sertifikat, kita makan dulu soalnya udah masuk lunch time. Di Eataly ini konsepnya mirip kayak Kem Chicks, ada supermarketnya dan di area yang sama ada restorannya juga. Kita makan di sini pesen pizza. Gw bukan expert makanan tapi yang gw rasain di Italy adalah asal-asal pesen pizza pun rasanya tetap enak.

Vatican City

Abis makan kita ga berlama-lama lagi langsung cus ke Vatican! Yes, salah satu site yang paling pengen gw datengin di Roma. Kita cus dari Eataly tapi kita langsung naik kereta di stasiun Roma Ostiensenya. Kita di sini beli tiket dulu. Harga tiketnya lebih mahal dari tiket metro yang biasa kita pake, yang ini kalau ga salah 6 euro one way.

Kali ini kita bukan naik kereta metro tapi naik kereta REG. Operatornya keretanya beda dan lebih besar keretanya. Bedanya kereta ini adalah dia semacam kereta double decker gitu, gede, nyaman, dan duduknya ga berdesakan kayak masuk kereta metro.

Untuk ke Vatican kita harus berenti di stasiun REG Roma S. Pietro, waktu yang diperlukan dari Ostiensi sekitar 20 menit, lumayan cepet kok. Yang bikin lama adalah dari stasiun Roma S. Pietro kita harus jalan kaki lagi ke Vaticannya sekitar 1 km. Ke Vatican dengan jalur ini masuknya lewat samping, yaitu lewat Piazza del Sant’uffizio.

Description: IMG_4266.JPG

Sayang pas di Vatican ini waktu kita ga terlalu banyak karena harus ambil pesanan barang di Condotti. Alhasil kita ga sempet masuk ke dalam, ditambah lagi antrian yang untuk masuk panjang banget sampai gerbang depan. Yang bikin panjang antrian adalah body checking yang ketat harus buka sepatu buka kaos kaki semuanya.

Description: WhatsApp Image 2019-07-23 at 11.28.21 PM.jpeg
Description: WhatsApp Image 2019-07-23 at 11.28.21 PM (1).jpeg

Kita langsung berangkat lagi dari Vatican ke Condotti tapi sebelumnya kita beli souvenir dulu di gerbang keluar Vatican. Di sini jual tas, kaos, gelang, asbak segala macem yang berhubungan sama Vatican dan Rome. Souvenir yang wajib gw beli setiap pergi adalah asbak dan bukaan botol yang bisa ditempel di kulkas.

Serunya ini si penjual orang Italy tapi bisa Bahasa Indonesia..!! Karena di sini juga banyak turis dari Indonesia yang kerjaannya belanja mulu, jadi mereka terbiasa juga sama Bahasa Indonesia. Lumayan juga untuk narik pembeli.

Pedagang Italy Berbahasa Indonesia

Sekarang kita ke Condotti harus naik bus dulu karena kalo naik kereta REG malah harus muter-muter dulu. Dari sini kita nunggu bus di bus stop Largo di Porta Cavalleggeri Fornaci untuk nunggu bus nomor 64 menuju Termini. Kita ke Termini dulu supaya gampang aksesnya naik metro ke stasiun Spagna untuk lanjut jalan kaki ke Condotti.

Sampai di Spagna kita bergegas ke Condotti ambil barang di tempat yang dimaksud. Di sini pun kita ga bisa berlama-lama karena selain udah capek, kita juga udah ditunggu sama Ibu Dubes di kedutaan buat makan bareng dan salam perpisahan karena ini malam terakhir kita di Roma. Sesampainya di Kedutaan, kita disambut oleh Ibu Dubes karena Pak Dubesnya sedang ada keperluan.

Selasa, 12 Maret 2013. Di hari ini kita harus bangun pagi-pagi untuk ke airport dan terbang ke Berlin, flight kita jam stgh 8 pagi. Jadi dari jam 6 kurang kita udah siap-siap. Sampai dengan hari terakhir kita di sini, orang kedutaan terus nawarin bantuan untuk anter ke airport. Nyerah sama orang Kedutaan, baik banget. Setelah masukin barang ke bagasi, salam-salam dengan orang sana, kita langsung dianter ke airport. Sampai di airport kita pamit sama orang Kedutaan yang ada di mobil langsung check in masukin bagasi dan cus.

Bersenang-Senang Jangan Lupa Bersyukur, Make It Balanced

Buat gw fakta di luar sana tentang penduduk yang ga mau nyekolahin anaknya ini sangat penting. Artinya masih banyak anak-anak yang tidak berkesempatan mendapatkan pendidikan. Yang membuat miris adalah karena orang tua dari anak tersebut yang merasa anak mereka hanya perlu bekerja di rumah.

Gw bersyukur sebagaimana pun keadaaan negara, kota, maupun keluarga kita, di luar sana masih banyak yang tidak seberuntung kita. Selain sistem dan fasilitas pendidikan yang disediakan di sini, kita juga diberikan karunia budaya yang sadar akan pentingnya pendidikan. Bahkan, keluarga yang (sorry) kurang mampu pun akan pakai segala cara demi menyekolahkan anaknya.

Mengetahui keadaan seperti itu, bukan berarti kita ga boleh bersenang-senang, silahkan saja asalkan bertanggung jawab. Bahkan dulu pernah saking niatnya, gw dan sahabat SMA gw yang cewe ke Bliss, Menara J*m***t*k, gw-nya sampai harus kasih selipan ke security agar bisa masukin gw karena waktu itu gw belom punya KTP, kalo yang cewe aman karena setiap rabu ada ladies night. Alhasil, keesokan harinya kita ga masuk sekolah karena masih berat. Tapi walaupun begitu, kita tetap selesaikan pendidikan kita sampai lulus karena itu merupakan tanggung jawab bagi kita, sebagaimana udah dibahas sebelumnya di artikel Amsterdam, a city of sin?

Jadi, walaupun kita masih mau bersenang-senang sampai kayak gimana pun, jenjang pendidikan tetap wajib diselesaikan karena merupakan karunia yang harus kita syukuri.

This Post Has One Comment

Leave a Reply